Mewujudkan SDM Madrasah Unggul di Era Desruptif Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal

Mewujudkan SDM Madrasah Unggul di Era Desruptif Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal

Oleh : Dra. Hj. Chawa, M.Pd

(Kepala MTsN 34 Jakarta)

 

ABSTRAKSI

 

Sumber Daya Manusia merupakan fakftor penentu berhasil tidaknya pembangunan sebuah negara tak terkecuali  daerah. Bagian dari Sumber Daya Manusia saat ini adalah  Generasi millennial  yang wajib diposisikan sebagai  human capital karena sangat menentukan wajah Indonesia (Daerah) Kedepan.  Diera desruptif ini generasi millennnial yang notabene generasi yang sangat familier dengan ICT (Information and Communication Technology) mempunyai kesempatan dan peluang besar menjadi generasi cerdas, kreatif, inovatif, mandiri dan berdaya saing global. Namun demikian satu hal yang patut menjadi pedoman bagi generasi millennial dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan keterampilan dan keahliannya yaitu senantiasa memelihara budaya lokal (local Value) dan memberdayakan potensi sumber daya lokal (manusia/alam) atau yang kita kenal dengan istilah local wisdom

 

  1. PENDAHULUAN

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan. Kualitas SDM sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan (fisik dan psikis), kualitas pendidikan informal dan formal (yang berhubungan dengan keterampilan/keahlian kerja), kepribadian terutama moral/agama, tingkat kesejahteraan hidup dan ketersediaan lapangan kerja yang relevan. Sumber Daya Manusia adalah manusia/orang yang bekerja di lingkungan sebuah organisasi yang disebut pegawai, karyawan, personil, pimpinan / manajer, pekerja, tenaga kerja, majikan buruh dan lain-lain. Di lingkungan organisasi bidang pendidikan adalah semua pegawai administratif, pendidik /guru, dosen serta tenaga kependidikan lainnya. Kompri (2015 : 46).  (http://journal.undiknas.ac.id)

Sumber Daya Manusia  (SDM) adalah sesuatu yang sering kita bicarakan dalam ranah terori, bahkan sudah sangat banyak  literatur yang membahas tentang SDM dan Pengembangannya, namun sayang beribu malang hingga kini Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi masalah yang besar bagi bangsa ini. Sumber Daya Manusia   (SDM) adalah hal yang sangat penting yang harus  menjadi perhatian dari semua pihak baik pemerintah, swasta dan organisasi pendidikan. Mengapa sangat penting ? karena Sumber Daya Manusia (SDM) adalah penentu utama keberhasilan pembangunan sebuah negara (Daerah), karena Sumber Daya Manusialah (SDM) yang akan mampu mencetak berbagai kreatifitas dan inovasi dalam sebuah organisasi.

Dalam sebuah sumber, Kwik Kian Gie menekankan perlunya Indonesia memberikan prioritas investasi yang lebih tinggi pada upaya pembangunan manusia. Hal itu dimaksudkan untuk memenuhi hak-hak dasar warga negara Indonesia juga untuk meletakkan dasar yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi dan menjamin kelangsungan demokrasi jangka panjang. Kwik, berkesimpulan bahwa Pemerintah harus lebih banyak berinvestasi pada program pembangunan manusia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi suatu hal yang penting dan harus menjadi perhatian dari semua pihak.

Berdasarkan penuturan Kwik di atas sangat jelas memfokuskan kepada urgensi atau peran SDM di dalam suatu negara. Dalam cakupan yang lebih mikro, fungsi SDM sangat penting di semua unit organisasi atau perusahaan. Di saat situasi dan kondisi usaha yang sangat hypercompetitive dan berketidakpastian, sebagaimana yang diungkap oleh Richard D’Aveni, maka SDM menjadi jawaban kunci bagi semua organisasi atau perusahaan untuk dapat tetap survive sekaligus winning the future, jika tidak ingin mengalami kejadian sebagaimana yang dilansir oleh Arie de Geus dari Royal Dutch/ Shell: Banyaknya perusahaan yang tumbang (bangkrut) disebabkan karena tidak mampu belajar dan non-adaptif, gagal menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Karenanya tak berlebihan jika pakar manajemen terkemuka, James Stapleton dalam “Executive’s Guide To Knowledge Management”, mengemukakan bahwasanya knowledge (pengetahuan) dan SDM adalah satu-satunya “senjata” yang masih tersisa pada saat ini untuk dapat menciptakan keunggulan kompetitif. (www.ejournalfia.ub.ac.id)

 

  1. GENERASI MILLENNIAL

Menurut Hasanudin, 2015) Generasi Millennial Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi ini adalah mereka yang lahir diantara tahun 1980 an sampai 2000 an. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 18 – 38 tahun.

Penelitian tentang generasi millenial sering dilakukan, misalnya di Amerika,salah satunya melalui studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dengan mengusung tema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation. Tahun sebelumnya, 2010, Pew Research Center juga merilis laporan riset dengan judul Millennials: A Portrait of Generation Next.

Dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik, hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yang mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini

Di Indonesia,  setidaknya ada lima isu utama yang membutuhkan kajian mendalam tentang potret generasi millennial, yaitu

1. Pandangan Keagamaan, Religion Beliefs.

Meskipun jumlah penduduknya mayoritas muslim, Indonesia bukanlah negara agama namun negara yang warga masyarakatnya ta’at beragama, sehingga dalam sistem bernegaranya menganut faham Demokrasi. Inilah prinsip yang senantiasa dipegang teguh oleh para pendiri bangsa ini. Dengan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 menjadi pedoman warganya dalam bernegara. Atas dasar itu penting kiranya saat ini kita memotret pandangan keagamaan generasi millenial, apakah ada pergeseran nilai dari apa yang menjadi pedoman bangsa  atau tidak. Apakah pandangan keagamaannya konservatif, moderat atau sekuler.

 2. Ideologi dan Partisipasi Politik, Ideology and Politic Participation

Betulkah nilai-nilai patriotik dan jiwa (rasa) nasionalisme semakin terkikis (luntur) dari generasi muda era millennial ? ini juga harus menjadi kajian mendalam  bagi kita, namun setidaknya kita masih penuh harapan, ketika menyaksikan mereka dengan Kebanggaan dan kecintaannya terhadap bangsa, mendukung setiap warga negara yang tampil diberbagai event olahraga dan yang lainnya dipentas internasional.  Yang harus menjadi kajian mendalam saat ini adalah seberapa besar jiwa nasionalisme mereka saat ini, apa arti nasionalisme bagi mereka apakah hanya sebatas aspek primordialisme, trend saja atau ada yang lebih substansial.

Mengenai partisipasi politik generas milenial di Indonesia, apakah mereka peduli dengan hajat demokrasi yang secara rutin diagendakan, baik itu pileg, pilkada maupun pilpres. Seberapa besar keterlibatan dan keikutsertaan mereka dalam ranah politik ini, apakah apatis, hanya menyalurkan hak politik, atau turut mensukseskan hajat politik tersebut.

  1. Nilai-Nilai Sosial, Social Values

Kajian tentang pandangan generasi millenial terhadap nilai-nilai sosial juga perlu diteliti secara mendalam, apakah generasi ini masih menjunjung tinggi adat dan budaya bangsa ?, bagaimana sikap dan perilaku mereka terhadap orang tua, guru, yang lebih tua, sebaya dan terhadap yang lebih muda. Apakah masih mengamalkan dan menjunjung adat ketimuran yang terkenal dengan sopan santun dan ramah tamahnya atau sudah mulai tergerus dengan masuknya berbagai faham, dan budaya luar (westernisasi).

  1. Pendidikan, Pekerjaan, dan Kewirausahaan, Education, Work, and Entrepreneurship

Isu yang harus menjadi kajian mendalam dan paling penting  bagi generasi milenial adalah isu tentang pendidikan, mengingat pendidikanlah yang sangat menentukan masa depan mereka. Dengan pendidikan kita akan mengetahui sukses tidaknya karir mereka baik didunia kerja/industri ataupun didunia usaha (Entreprenuer).  Setidaknya harapan besar bagi kita melihat animo dan geliat mereka terhadap pentingnya pendidikan, hal ini terlihat dari makin tingginya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia yang salah satu alat ukurnya adalah pendidikan.

  1. Gaya Hidup, Teknologi, dan Internet, Lifestyle, Technology, and Internet

Gaya hidup generasi milenial  yang cenderung hedonis bukan saja dikota-kota besar namun sudah merata kepelosok daerah, ini juga perlu kajian dan penelitian yang mendalam agar mereka yang dekat dengan informasi tak terbatas (internet) dan alat komunikasi yang super canggih (smart phone) tetap mampu memelihara dan menjaga adat dan budaya leluhur bangsa. Oleh karenanya perlu diteliti tentang pengaruh ICT (Information and Communication Technology) terhadap gaya hidup generasi milenial.

Dari kelima isu diatas, setidaknya kita memiliki gambaran sederhana tentang generasi millenial saat ini,  yang pada akhirnya kita bisa mengarahkan dan membimbing generasi tersebut untuk terus meningkatkan jiwa nasionalisme, jiwa patriotisme, memelihara dan menjadi duta adat, istiadat dan budaya bangsa. Mereka harus tumbuh menjadi manusia cerdas, unggul, berbudaya, mandiri dan berdaya saing global berbasis kearifan  lokal. selain itu penting kiranya kita mengingatkan mereka bahwa nasib bangsa ini kedepan ada dipundak mereka (generasi milenial).

 

  1. ERA DESRUPTIF

Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan. Kemudian pada bukunya “The Innovator’s Dilemma”, Christensen memperkenalkan model Disruptive Inovasi (The Disruptive Innovation Model). Dimana kemampuan pelanggan untuk memanfaatkan sesuatu yang baru dalam satu lini. Dimana lini terendah adalah pelanggan yang cepat puas dan yang tertinggi digambarkan sebagai pelanggan yang menuntut. Distribusi pelanggan ini yang secara median nya bisa diambil sebagai garis putus-putus untuk menerapkan teknologi baru.

Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.

Salah satu contoh dari Inovasi Disruptif (disruptive innovation) adalah Wikipedia. Wikipedia merupakan salah satu contoh inovasi disruptif yang merusak pasar ensiklopedia tradisional (cetak). Kalau dilihat, saat ini jarang sekali ditemukan ensiklopedia edisi cetak dijual ditoko buku. Semuanya sudah beralih ke Wikipedia. Dari sisi harga ensiklopedia tradisional (cetak) bisa jutaan, sekarang malah informasi bisa didapat secara cuma-cuma lewat Wikipedia. Makanya disebut “disruptif” atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “mengganggu”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Inovasi_disruptif)

Beberapa pemahaman yang kurang pas mengenai Disruption menurut Rhenald Kasali, kira-kira sebagai berikut :

  1. Banyak yang menganggap disruption hanya berkaitan dengan   teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
  2. Beberapa motivator, mengaitkan motivasi dengan disruption. Tapi, begitu kita telusuri sedikit lebih jauh, isinya hanya “pertunjukan” hipnotis atau paparan tentang sejarah hidupnya yang penuh lika-liku. Kemudian ada juga yang menyamakan disruption dengan cara kerja bisnis multilevel marketing (MLM) yang merugikan masyarakat.
  3. Beberapa Bisnisman Menganggap disruption seakan-akan melulu bisnis startup, dan hanya bermodalkan uang publik. Bahkan ada yang membatasinya sebagai trading, sehingga melihatnya sebagai usaha brokerage. Bisnis percaloan. Jadi seakan-akan disruption melulu soal bisnis aplikasi yang digerakkan untuk mempertemukan suply dengan demand. Anggapan seperti itu jelas kurang pas. Sebab disruption itu sejatinya mengubah bukan hanya “cara” berbisnis, melainkan juga fundamental bisnisnya. Mulai dari struktur biaya sampai ke budaya, dan bahkan ideologi industri.
  4. Anggapan bahwa disruption seakan-akan hanya masalah meng-online-kan layanan, menggunakan aplikasi dan mem-broker-kan hal-hal tertentu. Anggapan bahwa disruption hanya terjadi pada industri digital adalah kurang pas.

Disruption menurutnya bukan sekedar fenomena hari ini (today), melainkan fenomena “hari esok” (the future) yang dibawa oleh para pembaharu ke saat ini, hari ini (the present).  Pemahaman seperti ini menjadi penting karena sekarang kita tengah berada dalam sebuah peradaban baru. Kita baru saja melewati gelombang tren yang amat panjang, yang tiba-tiba terputus begitu saja (a trend break). Bahayanya adalah semakin “berpengalaman” dan “merasa pintar” seseorang, dia akan semakin sulit untuk “membaca” fenomena ini. Ia akan amat mungkin mengalami “the past trap” atau “success trap”. Apalagi untuk mencerna dan berselancar di atas gelombang disrupsi. Itu akan sulit sekali diterima oleh orang yang pintar dan berpengalaman tadi. Mengapa? Sederhana saja, yakni karena pikiran seperti itu amat kental logika masa lalunya. Jadi alih-alih menjelaskan, orang “berpengalaman” (masa lalu) malah bisa menyesatkan kita. Kata orang bijak, belajar itu sejatinya menjelajahi tiga fase: learn, unlearn, relearn. Sebab dunia itu terus berubah.

Disruption sesungguhnya terjadi secara meluas. Mulai dari pemerintahan, ekonomi, hukum, politik, sampai penataan kota, konstruksi, pelayanan kesehatan, pendidikan, kompetisi bisnis dan juga hubungan-hubungan sosial.

Berikut Beberapa contoh adanya era desruptif, menurut Reynald Kasali adalah kira-kira sebagai berikut :

  1. Adanya warga madrasah Indonesia sudah bisa kursus di Harvard tanpa harus pergi ke Harvard.
  2. Para dokter sudah tak lagi memakai pisau bedah seperti di masa lalu untuk membedah organ dalam pasiennya.
  3. Berbagai pekerjaan sekarang tengah digeluti para buruh, bankir, dan dosen, mungkin sebentar lagi akan beralih.

Setidaknya terdapat lima hal penting dalam disruption menurut Rhenald Kasali yaitu :

  1. Disruption berakibat penghematan banyak biaya melalui proses bisnis yang menjadi lebih simpel.
  2. Membuat kualitas apapun yang dihasilkannya lebih baik ketimbang yang sebelumnya.
  3. Disruption berpotensi menciptakan pasar baru, atau membuat mereka yang selama ini ter-eksklusi menjadi ter-inklusi. Membuat pasar yang selama ini tertutup menjadi terbuka.
  4. Produk/jasa hasil disruption ini harus lebih mudah diakses atau dijangkau oleh para penggunanya. Seperti juga layanan ojek atau taksi online, atau layanan perbankan dan termasuk financial technology, semua kini tersedia di dalam genggaman, dalam smartphone kita.
  5. Disruption membuat segala sesuatu kini menjadi serba smart. Lebih pintar, lebih menghemat waktu dan lebih akurat.

Itulah lima ciri disruption yang belakangan ini marak terjadi di mana-mana. Apakah itu hanya terbatas pada industri digital ? Jelas tidak. Perbaikan proses bisnis, misalnya, mampu memangkas biaya-biaya yang tidak perlu. (https://ekonomi.kompas.com)

 

 

 

  1. KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM) PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUPNYA

 

PENGERTIAN

Kearifan lokal dalam bahasa asing sering dikonsepsikan sebagai kebijakan se-tempat (local wisdom), pengetahuan setem-pat (local knowledge) atau kecerdasan se-tempat (local genious). Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebuah pemikiran tentang hidup. Pemikiran tersebut dilandasi nalar jernih, budi yang baik, dan memuat hal-hal positif. Kearifan lokal dapat diterjemahkan sebagai karya akal budi, perasaan men-dalam, tabiat, bentuk perangai, dan anjur-an untuk kemuliaan manusia. Penguasaan atas kearifan lokal akan mengusung jiwa mereka semakin berbudi luhur.

Naritoom (Wagiran, 2010) merumus-kan local wisdom dengan definisi, “Local wis-om is the knowledge that discovered or acquir-ed by lokal people through the accumulation of experiences in trials and integrated with the understanding of surrounding nature and cul-ture. Local wisdom is dynamic by function of created local wisdom and connected to the global situation.”

Kearifan lokal adalah bagian dari budaya. Kearifan lokal Jawa tentu bagian dari budaya Jawa, yang memiliki pandang-an hidup tertentu. Berbagai hal tentang hidup manusia, akan memancarkan ratus-an dan bahkan ribuan kearifan lokal. Lebih lanjut dikemukakan beberapa karakteristik dari local wisdom, antara lain: (1) local wis-dom appears to be simple, but often is elaborate, comprehensive, diverse; (2) It is adapted to local, cultural, and environmental conditions;It is dynamic and flexible; (4) It is tuned toneeds of local people; (5) It corresponds with quality and quantity of available resources; and (6) It copes well with changes.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipertegas bahwa kearifan lokal merupakan sebuah budaya kontekstual. Kearifan selalu bersumber dari hidup ma-nusia. Ketika hidup itu berubah, kearifan lokal pun akan berubah pula. https://journal.uny.ac.id

 

 RUANG LINGKUP KEARIFAN LOKAL

Di Indonesia, `kearifan lokal’ jelas memunyai makna positif karena `kearifan’ selalu dimaknai secara `baik’ atau `positif. Pemilihan kata kearifan lokal disadari atau tidak merupakan sebuah strategi untuk membangun, menciptakan citra yang lebih baik mengenai `pengetahuan lokal’, yang memang tidak selalu dimaknai secara po-sitif. Dengan menggunakan istilah `kearif-an lokal’, sadar atau tidak orang lantas ber-sedia menghargai ‘pengetahuan tradisio-nal’, ‘pengetahuan lokal’ warisan nenek-moyang dan kemudian bersedia bersusah-payah memahaminya untuk bisa memper-oleh berbagai kearifan yang ada dalam suatu komunitas, yang mungkin relevan untuk kehidupan manusia di masa kini dan di masa yang akan datang.

Dalam setiap jengkal hidup manusia selalu ada kearifan lokal. Paling tidak, kearifan dapat muncul pada: (a) pemikiran, (b) sikap, dan (c) perilaku. Ketiganya hampir sulit dipisahkan. Jika ketiganya ada yang timpang, maka kearifan lokal tersebut semakin pudar. Dalam pemikiran, sering terdapat akhlak mulia, berbudi luhur, te-tapi kalau mobah mosik, solah bawa, tidak baik juga dianggap tidak arif, apalagi kalau tindakannya serba tidak terpuji.

Apa saja dapat tercakup dalam kearifan lokal. Paling tidak cakupan luas ke-arifan lokal dapat meliputi: (a) pemikiran, sikap, dan tindakan berbahasa, berolah seni, dan bersastra, misalnya karya-karya sastra yang bernuansa filsafat dan niti (wulang); (b) pemikiran, sikap, dan tindak-an dalam berbagai artefak budaya, misal-nya keris, candi, dekorasi, lukisan, dan se-bagainya; dan (c) pemikiran, sikap, dan tin-dakan sosial bermasyarakat, seperti ung-gah-ungguh, sopan santun, dan udanegara.

Secara garis besar, kearifan lokal terdiri dari hal-hal yang tidak kasat mata (intangible) dan hal-hal yang kasat mata (tangible). Kearifan yang tidak kasat mata berupa gagasan mulia untuk membangun diri, menyiapkan hidup lebih bijaksana, dan berkarakter mulia. Sebaliknya, kearif-an yang berupa hal-hal fisik dan simbolik patut ditafsirkan kembali agar mudah di-implementasikan ke dalam kehidupan.

Suardiman (Wagiran, 2010) mengungkapkan bahwa kearifan lokal identik dengan perilaku manusia berhubungaan dengan: (1) Tuhan, (2) tanda-tanda alam, (3) lingkungan hidup/pertanian, (4) membangun rumah, (5) pendidikan, (6) upacara perkawinan dan kelahiran, (7) makanan, (8) siklus kehidupan manusia dan watak, (9) kesehatan, (10) bencana alam. Lingkup kearifan lokal dapat pula dibagi menjadi delapan, yaitu: (1) norma-norma lokal yang dikembangkan, seperti ‘laku Jawa’, pan-tangan dan kewajiban; (2) ritual dan tradisi masyarakat serta makna disebaliknya; (3) lagu-lagu rakyat, legenda, mitos dan ce-ritera rakyat yang biasanya mengandung pelajaran atau pesan-pesan tertentu yang hanya dikenali oleh komunitas lokal; (4) informasi data dan pengetahuan yang ter-himpun pada diri sesepuh masyarakat, tetua adat, pemimpin spiritual; (5) manus-krip atau kitab-kitab suci yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat; (6) cara-cara komunitas lokal dalam memenuhi ke-hidupannya sehari-hari; (7) alat-bahan yang dipergunakan untuk kebutuhan ter-tentu; dan (8) kondisi sumberdaya alam/ lingkungan yang biasa dimanfaatkan da-lam penghidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam lingkup budaya, dimensi fisik dari kearifan lokal meliputi aspek: (1) upacara adat, (2) cagar budaya, (3) pariwisata alam, (4) transportasi tradisional, (5) per-mainan tradisional, (6) prasarana budaya, (7) pakaian adat, (8) warisan budaya, (9) museum, (10) lembaga budaya, (11) keseni-an, (12) desa budaya, (13) kesenian dan kerajinan, (14) cerita rakyat, (15) dolanan anak, dan (16) wayang. Sumber kearifan lokal yang lain dapat berupa lingkaran hidup orang Jawa yang meliputi: upacara tingkeban, upacara kelahiran, sunatan, per-kawinan, dan kematian. https://journal.uny.ac.id

 

  1. PENDIDIKAN KEARIFAN LOKAL

Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi. Paulo Freire (Wagiran, 2010) menyebutkan, dengan dihadapkan pada problem dan situasi konkret yang dihadapi, peserta didik akan semakin tertantang untuk menanggapinya secara kritis. Hal ini selaras dengan pen-dapat Suwito (2008) yang mengemukakan pilar pendidikan kearifan lokal meliputi (1) membangun manusia berpendidikan harus berlandaskan pada pengakuan eksistensi manusia sejak dalam kandungan; (2) pen-didikan harus berbasis kebenaran dan ke-luhuran budi, menjauhkan dari cara berpikir tidak benar dan grusa-grusu atau wa-ton sulaya; (3) pendidikan harus mengem-bangkan ranah moral, spiritual (ranah afek-tif) bukan sekedar kognitif dan ranah psi-komotorik; dan (4) sinergitas budaya, pen-didikan dan pariwisata perlu dikembang-kan secara sinergis dalam pendidikan yang berkarakter.

Kearifan lokal merupakan modal pembentukan karakter luhur. Karakter luhur adalah watak bangsa yang senan-tiasa bertindak dengan penuh kesadaran, purba diri, dan pengendalian diri. Pijaran kearifan lokal selalu berpusar pada upaya menanggalkan hawa nafsu, meminimalisir keinginan, dan menyesuaikan dengan em-pan papan. Kearifan lokal adalah suatu wa-cana keagungan tata moral.

Upaya pengembangan pendidikan kearifan lokal tidak akan terselenggara dengan baik tanpa peran serta masyarakat secara optimal. Keikutsertaan berbagai un-sur dalam masyarakat dalam mengambil prakarsa dan menjadi penyelenggara pro-gram pendidikan merupakan kontribusi yang sangat berharga, yang perlu men-dapat perhatian dan apresiasi. Berbagai bentuk kearifan lokal yang merupakan daya dukung bagi penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan dalam masya-rakat antara lain sebagai berikut.

  1. Kearifan lokal masyarakat dalam bentuk peraturan tertulis tentang kewajiban belajar, seperti kewajiban mengikuti ke-giatan pembelajaran bagi warga masya-rakat yang masih buta aksara.
  2. Kearifan lokal dalam menjaga keharmonisan hubungan antarsesama manu-sia, melalui aktivitas gotong royong yang dilakukan masyarakat dalam ber-bagai aktivitas.
  3. Kearifan lokal yang berkaitan dengan seni. Keseniaan tertentu memiliki nilai untuk membangkitkan rasa kebersamaan dan keteladan serta rasa penghor-matan terhadap pemimpin dan orang yang dituakan,
  4. Kearifan lokal dalam sistem anjuran (tidak tertulis), namun disepakati dalam rapat yang dihadiri unsur-unsur dalam masyarakat untuk mewujudkan kecer-dasan warga, seperti kewajiban warga masyarakat untuk tahu baca tulis ketika mengurus Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga

https://journal.uny.ac.id

 

 

  1. PENINGKATAN KUALITAS SDM MADRASAH

Keberhasilan negara Jepang yang mampu mengimbangi dominasi negara barat dalam aspek ekonomi dan teknologi, setidaknya membuka mata kita bahwa budaya lokal suatu bangsa dan ajaran agama dapat berpengaruh terhadap sistem manajemen dan etos kerja suatu bangsa. Keberhasilan Jepang ini pun banyak diikuti oleh negara-negara seperti Taiwan dan Korea yang mengadopsi latar belakang budaya sebagai pijakan/pondasi dalam meningkatkan ekonominya. Hanya negara yang mampu mengimplementasikan budaya dan ajaran agama ke dalam pandangan hidup dan filosofi bekerja bagi masyarakatnyalah yang dapat bertahan. Sistem manajemen dan etos kerja yang di import dari luar terkadang dapat menimbulkan kerancuan dalam pelaksanaannya karena terkadang implementasinya tidak sesuai/berbenturan dengan budaya masyarakat setempat.

Kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa. Dengan kata lain, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita. Negara atau bangsa yang berhasil membangun kesejahteraan rakyatnya adalah bangsa yang membangun berbasis budayanya. Sekarang ini, Cina dan Jepang termasuk dalam kategori negara yang tersejahtera (terkaya). Kedua negara ini membangun negaranya dengan berbasis pada budaya rakyatnya. Itu merupakan bukti bahwa budaya lokal ternyata mempengaruhi etos kerja suatu dalam organisasi.  (https://www.kompasiana.com)

SDM merupakan syarat utama dan syarat terpenting dalam membangun suatu daerah, berhasil tidaknya pembangunan sebuah daerah sangat bergantung pada seberapa besar kualitas SDM yang dimiliki oleh daerah tersebut, oleh karenanya perlu adanya sinergitas, kolaborasi, sinkronisasi dan integrasi program antara pemerintah daerah, Perguruan Tinggi, Dunia Industri dan  Dunia Usaha (DUDI) dalam membangun generasi milenial yang cerdas, mandiri, berdaya saing global dan berbasis kearifan lokal.

 

Setidaknya, menurut saya ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai policy maker  dalam menjawab  tantangan diatas, yaitu  :

  1. Membuat kebijakan pubik bidang pendidikan yang mengatur tentang pentingnya Madrasah menyertakan kurikulum berbasis kearifan lokal (Adat Istiadat, Budaya, dan Potensi Sumber Daya Alam)
  2. Memediasi dan Memfasilitasi secara rutin dan teragenda adanya pertemuan dalam ajang sarasehan, diskusi dan sejenisnya antara Madrasahdengan DUDI
  3. Memberikan Informasi kepada Madrasah dan DUDI secara berkala dan up to date tentang potensi Sumber Daya Alam yang ada didaerahnya.
  4. Mendorong dan memfasilitasi setiap Madrasahyang akan membuka jurusan/program studi yang sinergis dengan potensi lokal
  5. Mendorong dan memfasilitasi DUDI yang akan membuka peluang kerja atau peluang usaha yang akan memberdayakan potensi lokal (SDM/SDA).

 

Sementara menurut saya, yang harus dilakukan oleh Madrasah dalam mewujudkan SDM Milenial Cerdas, Mandiri, Berdaya Saing Global dan Berbasis Kearifan lokal adalah sebagai berikut :

  1. Mendesain kurikulum yang berbasis kearifan lokal namun berdaya saing global
  2. Ikut serta dan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam memberdayakan potensi kearifan lokal
  3. Bekerjasama dengan DUDI dalam mewujudkan generasi milenial yang sinergis dengan kebutuhan DUDI.
  4. Membuka Program Studi atau Jurusan dengan memperhatikan potensi lokal
  5. Bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Nasional maupun Internasional dalam rangka mensertifikasi pendidik dan peserta didiknya
  6. Mendirikan Pusat-Pusat Penelitian, Kajian. Lembaga Sertifikasi yang berbasis Kearifan Lokal berdaya saing global
  7. Bekerjasama dengan vendor dalam memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada pendidik dan peserta didik
  8. Memprioritaskan Pendidikan Karakter (Soft Skill) dan Entrepreneurship (Kewirausahaan) dalam implementasi Kurikulumnya
  9. Bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan lainnya (Nasional/Internasional) dalam meningkatkan kualitas SDM Pendidik dan Peserta Didik
  10. Membuat Transkrip Non Akademik (Transkrip Soft Skill) selain Transkrip Akademik yang diberikan diakhir kelulusan siswa/warga madrasah. Menurut Heri Kuswara Dalam berbagai kesempatan, sering penulis sharing dan berdiskusi dengan dunia industri mengenai SDM lulusan Madrasahseperti apa yang mampu menjadi “pemenang” diera masyarakat Ekonomi Asean ini. hampir seluruhnya berpendapat bahwa untuk menjawab tantangan persaingan SDM secara global, tiga aspek yang wajib dimiliki oleh setiap lulusan diantaranya : keterampilan (Hard Skill) yang sesuai dengan trend pasar kerja, sertifikasi kompetensi dan penguatan soft skill. Dari jawaban tersebut penulis menyimpulkan untuk aspek pertama dan kedua memang terus digalakan oleh setiap perguruan tinggi. Namun untuk aspek ketiga yang berhubungan dengan soft skill sepertinya tidak banyak Madrasahyang betul-betul memberikan pendidikan soft skill terbaik buat warga madrasahnya, sehingga masalah muncul ketika lulusan dihadapkan pada situasi pekerjaan yang sangat berbeda dengan situasi kuliah.  Itulah kenapa pendidikan soft skill sangat penting diberikan ketika kuliah”  sumber : http://konferensi.nusamandiri.ac.id/

 

Selain kesepuluh cara diatas, menurut Heri Kuswara, entrepreneurship juga harus dijadikan skala prioritas dalam kurikulumnya,  heri memberikan gagasan untuk diimplementasikan oleh Madrasahdalam menumbuhkan ”geliat” entrepreneurship  bagi warga madrasah. Gagasan yang ia ungkapkan secara singkat adalah sebagai berikut:  (1) perlu disusunnya kurikulum kewirausahaan baik berdiri sendiri ataupun include kedalam beberapa mata kuliah, (2) Peningkatan kulaitas SDM Madrasah yang bermental dan berjiwa entrepreneurship, (3) kampus Membentuk Entrepreneurship Center (baik institusi kampus ataupun berupa organisasi kewarga madrasahan). (4) Kerjamasa dengan Dunia Usaha. (5) Membentuk Unit Usaha untuk Madrasah. (6) Kerjasama dengan Institusi Keuangan (perbankan/non perbankan). (7) mengadakan Entrepreneurship Award untuk madrasah.

Untuk melahirkan  entrepreneur-entrepreneur muda sukses tersebut di perlukan kesungguhan dan keseriusan dari Madrasah dalam mengemban misi entrepreneurial university. Program-program kewirausahaan yang telah digagas dan dijalankan oleh berbagai Madrasah khususnya di indonesia, patut kiranya dijadikan sebagai teladan dalam memulai memfokuskan Madrasah dalam melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda sukses. Selain itu tujuh gagasan yang heri kuswara kemukakan diatas dapat menjadi referensi untuk diimplementasikan oleh Madrasahdalam menumbuhkan ”geliat” entrepreneurship di perguruan tinggi. http://lppm.bsi.ac.id

 

Selanjutnya beberapa hal yang harus dilakukan oleh DUDI dalam memewujudkan SDM Berdaya Saing Global dan Berbasis Kearifan Lokal adalah sebagai berikut :

  1. Membuka Peluang Kerja dan Peluang Usaha yang sesuai dengan Potensi Kearifan Lokal
  2. Ikut serta dan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan Madrasah dalam memberdayakan potensi kearifan lokal
  3. Memfasilitasi Madrasah dalam melakukan penelitian, praktek kerja, Kuliah Kerja Praktek, magang, studi lapangan dan kegiatan sejenisnya
  4. Mengutamakan Penyerapan Tenaga Kerja Lokal namun tetap mengedepankan Profesionalisme dan Objektifitas.
  5. Menjadi pembicara di Madrasah untuk mengisi kuliah Umum atau menjadi tutor/instruktur praktek/praktikum.

 

 

 

 

 

 

 

Selain sinergitas dan kolaborasi yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, Madrasah dan DUDI, warga madrasah juga harus senantiasa meningkatkan kompetensi terutama dari sisi Soft Skill. Dalam meningkatkan kompetensi soft skill setiap warga madrasah setidaknya harus melakukan hal dibawah ini :

 

  1. Aktif Mengikuti Training Soft Skill

Tidak sulit bagi kita untuk mendapatkan institusi/lembaga yang khusus menangani training soft skillSoft skill training tumbuh pesat, mengingat masalah terbesar bangsa ini terletak pada diri manusianya. Sikap dan perilaku atau attitude yang kurang baik sering menjadi permasalahan besar dan penghambat sinergi sistem pada sebuah organisasi. Ditambah dengan kurangnya motivasi, team work yang lemah, tidak pandai memimpin dan kurangnya public relations, makin lengkaplah penyebab kemunduran diri, perusahaan dan bangsa pada umumnya.

 

  1. Terjun dan Aktif Berorganisasi

Dewasa ini sangat banyak organisasi yang dapat kalian jadikan tempat untuk menumbuhkan dan mengembangkan soft skill. Kalian bisa pilih sesuai minat dan bakat. Di madrasah sendiri tersedia banyak organisasi yang bisa diikuti seperti OSIS, Paskibra, Pramuka, PMR, Ektrakulikuler (kesenian, kerohanian, bidang-bidang olahraga), dan lain-lain. Mengikuti salah satu, dua, bahkan beberapa organisasi sekaligus akan sangat bermanfaat, selama kita dapat mengatur waktu sebaik-baiknya tanpa meninggalkan/mengabaikan belajar sebagai prioritas kita dalam menimba ilmu, pengetahuan dan keterampilan.

 

  1. Menjadi “Student Center Learning”

Mulailah kritis dengan apa yang guru/dosen atau rekan anda sampaikan. Banyak belajar bertanya? Menginterupsi? Memberikan pandangan yang berbeda? Berdebat? Berdiskusi ? Tidak usah khawatir, hal tersebut bukan merupakan sebuah pembangkangan atau takut kualat terhadap dosen. Namun itulah memang yang harus dilatih agar tidak terjadi mental block. Mental Anda akan semakin kuat, terlatih dalam berkomunikasi, akan lebih arif dan bijak dalam berpendapat, dan tentunya otak kalian tidak beku, selalu aktif terus berfikir dan bertindak kreatif.

 

  1. Berkeinginan Kuat

Akan sangat ideal jika kalian mengikuti ketiga cara yang saya sarankan di atas. Pemahaman tentang apa itu soft skill dan seberapa besar Anda menguasainya sangat ditentukan oleh seberapa aktif Anda mengikuti ketiga cara di atas. Jika ketiganya Anda jalankan dengan intensitas tinggi, maka karir gemilang di genggaman Anda. Namun jika Anda belum bisa atau belum siap mengikuti ketiga saran di atas, minimal kalian dari sekarang mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari pendidikan soft skill sebagai kunci sukses dalam berkarir. (http://garut-express.com).

 

 

 

 

 

 

 

  1. KESIMPULAN

 

Tidak mudah membangun dan mewujudkan  Sumber Daya Manusia (SDM) terutama SDM yang lahir di era Milenial  yaitu antara tahun 1980-2000, yang saat ini berstatus sebagai warga madrasah menjadi SDM yang Cerdas, Unggul, Mandiri, Berdaya Saing Global dan Berbasis Kearifan Lokal.  Terlebih Diera Desruptif ini,  tantangannya sangatlah besar mengingat semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat generasi muda dewasa ini mudah berkomunikasi dan berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya yang datang dari luar. Namun demikian tentu perkembangan ICT diatas, jika dimanfaatkan sebaik mungkin justru akan sangat banyak membantu terwujudnya SDM yang mempunyai daya saing global dan berbasis kearifan lokal.

 

Sumber Daya Manusia merupakan fakftor penentu berhasil tidaknya pembangunan sebuah negara tak terkecuali  daerah. Bagian dari Sumber Daya Manusia saat ini adalah  Generasi millennial  yang wajib diposisikan sebagai  human capital karena sangat menentukan wajah Indonesia (Daerah) Kedepan.  Diera desruptif ini generasi millennnial yang notabene generasi yang sangat familier dengan ICT (Information and Communication Technology) mempunyai kesempatan dan peluang besar menjadi generasi cerdas, kreatif, inovatif, mandiri dan berdaya saing global. Namun demikian satu hal yang patut menjadi pedoman bagi generasi millennial dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan keterampilan dan keahliannya yaitu senantiasa memelihara budaya lokal (local Value) dan memberdayakan potensi sumber daya lokal (manusia/alam) atau yang kita kenal dengan istilah local wisdom.

 

Untuk mewujudkan keinginan diatas, sangat diperlukan adanya sinergitas, kolaborasi, sinkronisasi dan integrasi program antara pemerintah daerah, Perguruan Tinggi, Warga madrasah, Dunia Industri dan  Dunia Usaha (DUDI) dalam membangun generasi milenial yang cerdas, mandiri, berdaya saing global dan berbasis kearifan lokal. Gagasan-gagasan diatas tentang pentingnya berbagai hal yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, Warga madrasah dan DUDI adalah sebuah keharusan untuk diimplementasikan sehingga pembangunan daerah akan semakin berkembang dan maju. Demikian dan Terima Kasih.

 

 

  1. SARAN

 

“Segera Implementasikan Gagasan-Gagasan Diatas Baik Oleh Pemerintah, warga madrasah dan DUDI”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUMBER MATERI

 

Ali, Hasanudin. 2015. Generasi Millennial Indonesia: Tantangan dan Peluang Pemuda Indonesia.  Diambil dari:  https://hasanuddinali.com/2015/02/07/generasi-millennial-indonesia-tantangan-dan-peluang-pemuda-indonesia/  (15  Maret 2018)

Anoname. Inovasi Disruptif. Diambil dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Inovasi_disruptif. (16 Maret 2018)

Kasali, Rhenald. 2017. Meluruskan Pemahaman soal “Disruption”. Diambil dari: “, https://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/05/073000626/meluruskan.pemahaman.soal.disruption. ( 15 Maret 2018)

Kuswara, Heri. 2011.  Strategi Sukses Mewujudkan  Entrepreneur Muda (Warga madrasah) di Perguruan Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi (SNIT) 2011 LPPM BSI. Diambil dari: http://lppm.bsi.ac.id/memberHome.php?asset=snit2011. (16 Maret 2018).

Kuswara, Heri. 2015. Penerapan Transkrip Soft Skill Di Madrasah Mendorong  Terciptanya SDM Unggul Di Era Masyarakat Ekonomi Asean”. Konferensi Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (KNIT) 2015. Diambil dari:http://konferensi.nusamandiri.ac.id/prosiding/index.php/knit/article/view/23/13. (16 Maret 2018)

Kuswara, Heri. 2016. Strategi Cerdas Meraih Karir Gemilang Dengan Soft Skill. Diambil dari: http://garut-express.com/strategi-cerdas-meraih-karir-gemilang-dengan-soft-skill/. (16 Maret 2018)

Mayadi, Ni Luh. 2016. Model Pengembangan Sdm Berbasis Kearifal Lokal Dan Regional (Analisis Kritis Dari Kesiapan Sdm Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean) MEA 2015. Jurnal Manajemen & Bisnis ISSN : 1892-8486, Volume 13 Nomor 2 April 2016. Diambil dari: http://journal.undiknas.ac.id/index.php/magister-manajemen/article/download/110/90

Pembendaharaan, Permata. 2015. Peningkatan Kualitas SDM Kementerian Keuangan Berbasis Kearifan Lokal. Diambil dari: https://www.kompasiana.com/perbendaharaanesia/peningkatan-kualitas-sdm-kementerian-keuangan-berbasis-kearifan-lokal_55c61fef6f7a613f31a0a0c7. (15 Maret 2018)

Ruhana, Ika. 2012.  Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Vs Daya Saing Global. e-Journal Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya , Vol. 6, No.1 (2012). Diambil dari:  www.ejournalfia.ub.ac.id/index.php/profit/article/viewFile/134/348. (15 Maret 2018)

Wagiran. 2012. Pengembangan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Hamemayu Hayuning Bawana (Identifikasi Nilai-nilai Karakter Berbasis Budaya). Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun II, Nomor 3, Oktober 2012. Diambil dari: https://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/1249/1050. (15 Maret 2018).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below