YA LATIF, SYUKURKU

YA LATIF, SYUKURKU

Perubahan adalah sunatullah, bahkan ajaran agama Islam menegaskan barang siapa tidak mau berubah dari kondisi satu ke kondisi lain yang kebib baik, maka Allah SWT tidak akan merubah selamanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ara’d ayat 11: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Menemukan rasa bahwa usaha dan wujud perubahan adalah dari Allah SWT tidak semua orang mampu, sehingga ia merasa semua adalah usahanya sendiri. Akibatnya jika hasil perubahan adalah baik, maka dia akan merasa bahwa dirinya yang mampu merubah, tapi jika hasilnya buruk, dia akan terbawa pada suasana penyesalan dan pesimisme untuk melangkah, dan lebih ironis lagi, dia akan menyalahkan Dzat yang menguasai seluruh usaha, wujud, dan hasilnya. Menemukan dan mengahadirkan rasa itu adalah bagian syukur kepada-Nya, dengan satu keyaninan semua adalah milik-Nya, untuk-Nya, dan Kepada-Nya. Rasa itu tumbuh menyenangkan dan menenangkan, tidak ada lain adalah adalah anugrah dari-Nya, Ya latif.

Mengahadirkan Ya Latif dalam semua aktifitas, usaha, dan doa bukan sesuatu yang mudah, tidak semua orang bisa, dengan cara yang mudah atau susah, dengan cara yang cepat atau lambat. Berbagialah mendapatkan anugrah-nya, Ya Latif, karena dengan kebahagian akan medekatkan pada syukur kepada-Nya. Cara itu sebagian tergambar dengan ungkapan perjalanan hidup dalam cerita-cerita menarik dalam buku ini, ya latif. Dengan cara usaha yang cepat (the flas), dengan kebersamaan, dengan cinta, dengan olahan “bumbu” kehidupan yang beragam. Bagaimanapun caranya, seberapun kadar rasanya, dan seperti apapun wujudnya, Syukurku untukmu Ya, Latif.

Syukurku adalah kesadaran lahor dan batinku atas semua anurah-Nya. Syukurku sebagaimana subtansi mana Ya-Latif, “yang mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi atau tak terduga.” Predikat Al-Lathif  memang pantas disandang Allah, dan hanya Dia yang pantas menyandangnya. Setidak-tidaknya, ada tiga alasan mengapa Dia disebut Al Lathif:

Pertama, Dia melimpahkan karunia kepada hamba-hambaNya secara tersembunyi dan rahasia, tanpa diketahui oleh mereka. Ketika Dia menyatukan dua insan berlainan jenis dalam mahligai rumahtangga, tak seorang pun tahu dari mana datangnya cinta. Begitu halus, begitu lembut, sehingga orang yang dikaruniainya tak juga mengetahuinya. Demikian pula anugerah rizki yang lain, semua serba halus dan tersembunyi. Al-Ghazali memberi catatan khusus di sini, ketika ia menggambarkan betapa Maha Halusnya Allah. Ia mengangkat contoh janin, bagaimana Allah memelihara janin ibu dan melindunginya dalam tiga masa kegelapan, yaitu kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutupi anak dalam rahim. Betapa Mahahalusnya Dia ketika memberi makan janin melalui pusar sampai ia lahir dan mengilhaminya menyusu kepada ibunya tanpa ada yang pernah mengajarinya. Gigi-gigi bayi ketika itu belum ditumbuhkan agar si Ibu tidak kesakitan ketika anaknya menyusu. Siapakah yang menahan tumbuhnya gigi bayi? Semuanya serba halus, lembut, dan nyaris tidak ada yang mengetahuinya.

Kedua, Dia menghamparkan alam raya ini untuk makhlukNya. Allah memberi kepada semua makhlukNya melebihi yang diminta. Kita tidak pernah minta hidup di dunia ini, tapi Dia menganugerahi kehidupan. Kita tidak pernah ingin dijadikan manusia, tapi Allah menakdirkan kita menjadi manusia. Kita tidak pernah minta bisa berbicara, tapi Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan berbicara. Dia telah memberi sebelum diminta. Di sisi lain, Dia tidak pernah menuntut balas, juga tidak memberi beban melebihi kemampuan makhlukNya. Adakah yang lebih santun dari Dia?

Ketiga, Dia berkeinginan agar semua makhlukNya mendapatkan kemaslahatan dan kemudahan. Dia tidak ingin makhlukNya mendapati kesulitan. Al-Qur’an bertutur: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kalian dalam kesulitan.”

Itulah sebabnya, Allah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana kehidupan dan memberi kemudahan kepada manusia untuk mendapatkannya. Allah melengkapi makhlukNya dengan berbagai indera, selain naluri yang bersifat alamiah. Khusus untuk manusia, Allah mengaruniakan akal pikiran dan hati nurani. Dua sarana yang dikaruniakan Allah itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi.

Ya latif sederhana, tapi memiliki makna yang mendalam bagi siapa saja yang mampu mengahadirkan Ya latif sebagai bentuk keutuhan bersyukur atas semua yang terjadi, baik atau buruk, anugrah atau musibah, susah atau senang. Membaca dengan hati buku ini, akan betul mememukan makna Ya Latif dalam setiap perjalanan, karena perjalan adalah usaha, wujud usaha apun itu akan indah dan nimat, jika didasai dengan kehadiran Ya Latif.

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below