Kebaikan Sempurna dibalik Banjir dan Corona

Kebaikan Sempurna dibalik Banjir dan Corona

Oleh: Yetti Muryati Tanjung, M.Pd

(Guru MTSN 34 Jakarta)

 

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 25 Februari 2020, banjir melanda kota Jakarta. Banjir yang terjadi mulai dini hari itu terjadi akibat hujan yang turun mulai malam hingga pagi hari. Sebenarnya ini adalah banjir yang kedua kalinya di awal tahun 2020. Banjir sebelumnya terjadi malam pergantian tahun.

Hampir sama dengan yang pertama, banjir yang kedua ini cukup membuat aktivitas masyarakat di berbagai bidang terganggu seperti dalam berbagai media massa disebutkan sebanyak 375 sekolah di DKI Jakarta diliburkan. Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah banyak rumah siswa kebanjiran, sehingga tidak memungkinkan mereka dapat hadir. Kemungkinan kedua adalah gedung sekolah yang terendam air, sehingga tidak dimungkinkan untuk siswa dan guru melakukan aktivitas belajar-mengajar. Selain itu, ada beberapa teman sejawat memberitahukan bahwa mereka akhirnya membatalkan diri untuk menghadiri sebuah acara workshop karena kondisi jalan menuju ke tempat workshop terendam banjir dan tidak mungkin untuk dilalui. Semua itu merupakan beberapa contoh aktivitas masyarakat yang terganggu akibat banjir.

Dua hari setelah banjir, yaitu 27 Februari 2020, kedutaan besar Republik Indonesia merilis maklumat yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi tentang penghentian sementara warga negara asing masuk ke Kerajaan Arab Saudi dalam rangka ibadah umroh dan ziarah Masjid Nabawi. Maklumat tersebut dikeluarkan pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebagai salah satu langkah menangkal masuk dan menyebarnya virus Corona (COVID-19) ke wilayah Kerajaan Arab Saudi.

Dampak yang diakibatkan dari maklumat tentang penghentian sementara warga negara asing masuk ke Kerajaan Arab Saudi untuk ibadah Umroh dan ziarah Masjid Nabawi adalah tertundanya keberangkatan para jemaah umroh. Sebagian mereka bahkan ada yang telah sampai di Bandara Soekarno Hatta dan bersiap untuk diberangkatkan pada hari itu. Akhirnya, jemaah umroh yang tertunda tersebut dipulangkan kembali oleh travel masing-masing.

Banjir dan Corona adalah bencana yang mengandung banyak pelajaran yang dapat dipetik. Kedua bencana itu menyadarkan kita bahwa semua itu dapat terjadi karena kuasa Allah Swt. Banyak rencana yang telah disusun sebelum bencana itu terjadi. Namun, pada akhirnya Allah Swt. jualah yang menentukan rencana itu batal atau tidak.

Berkaitan dengan segala amal kebaikan yang tertunda atau batal terlaksana, Allah Swt. yang memiliki kelembutan yang Mahasempurna memberikan kompensasi atas tertundanya segala amal kebaikan itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Nabi Muhammad saw. Bersabda:

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskannya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR. al Bukhari dan Muslim)

Hadist tersebut mengisyaratkan tentang perhatian Allah Swt. terhadap amal kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Jika hamba-Nya telah berniat untuk melakukan suatu kebaikan tetapi tidak terlaksana, maka Allah Swt. tetap menghitungnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Tak satu pun amalan sang hamba yang disia-siakan-Nya. Bahkan ketika amalan itu masih ‘berwujud’ niat.

Oleh karena itu, mengikrarkan niat untuk berbuat baik dan bertekad kuat mewujudkannya amatlah penting. Niat itu mungkin bisa saja tertunda atau batal kita lakukan. Namun satu hal yang harus diyakini adalah Allah Swt.  tidak pernah menunda kebaikan untuk hamba-Nya. Setidaknya, jika esok tak pernah datang atau mentari terbit dari ufuk barat, niat baik kita sudah tertulis rapi sebagai kebaikan yang sempurna di sisi Allah Swt. Wallahu A’lam Bisshowab.

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below